SUPRANATURAL

bismillah

DIMENSI GHAIB YANG SUCI DI LAPISAN CAHAYA MAHA CAHAYA

BAGAIMANA CARA MENEMBUS DAN MEMBUKA TABIRNYA

ALLOH 3

Melanjutkan olah laku spiritual hingga tingkat tertinggi tidak boleh meninggalkan syariat. Suatu misal, kita sebagai muslim pemeluk agama Islam, selayaknya dan seharusnya untuk mencapai taraf makrifat maka saya tidak boleh meninggalkan syariat sholat lima waktu, zakat, shodaqoh dll. Karena Syariat adalah kendaraan atau wujud jasmani kita untuk menjalankan perintahNya, menjauhi segala larangannya dan dijabarkan dalam Ilmu Fiqh dll. Untuk selanjutnya para ahli sufi menjalankan ilmu Tarekat artinya jalan adalah ilmu yang mempelajari tentang ketaqwaan, ketauhidan, dll, yang dibina atau di bimbing oleh Guru / Murshid, Sedangkan Hakekat dan Makrifat adalah olah bathin dari syariat dan tarekat, yakni pengetrapannya dalam kehidupan sehari-hari, ibadah umum maupun khusus.  Banyak orang berpendapat, bila sudah mencapai taraf spiritual yang tinggi maka diperkenankan untuk meninggalkan syariat yang merupakan “kulit” untuk meraih makrifat atau “isi”. Pendapat demikian sangat membahayakan dirinya sendiri, karena wujud jasmani kita adalah kulit yang butuh sumber energi dari alam semesta, hidup dalam lingkungan sesama manusia juga dengan aneka ragam makhluk hidup. Dimana saling membutuhkan satu sama lain, untuk melangsungkan kehidupanya masing2, semua adalah wujud nyata atau wujud dhohir/sunatul wujud. Sedangkan Dimensi Cahaya diatas cahaya adalah Dzat wajibal wujud….Oleh sebab itu pendapat yang demikian berarti belum mampu menghayati dan menyelami hakikat “sangkan paraning dumadi” yang sejati. Karena wujud jasmani dan rokhani itulah yang diperintahkan menjalankan syariat sesuai hukum dan rukunnya bila ditinggalkan dan melanggar sudah barang tentu ada sangsinya…..Kalau sudah pada tataran spiritual tinggi hal tersebut biasanya adalah gejolak sebagai ujian dari Alloh …..

TAUBAT2

Hidup adalah tholabul ilmi atau dalam proses belajar. Belajar menghayati semua fenomena hidup sehingga kita akhirnya bisa meminum segarnya menjadi wakil dan utusan Tuhan di bumi.Tubuh fisik kita terbuat dari empat anasir (air, api, udara, tanah) dan panca skanda. Untuk mencapai pencerahan sempurn, kita (orang-orang yang membina diri) menggunakan tubuh fisik (bagian dari diri kita yang semu) untuk menemukan diri kita yang sejati (diri sejati/guru sejati). Kita melatih diri kita terus menerus sehingga sifat diri sejati kita menampakkan diri. Penekanannya adalah kata MEMBINA DIRI.

Makrifat adalah satu momentum. Bukan kondisi yang berlangsung tetap. Meskipun kondisi spiritual kita telah mencapi tahap ini, namun itu tidak berlangsung tetap melainkan terjadi pada saat-saat khusus. Sementara tubuh fisik kita harus terus dilatih untuk mencicipi saat-saat untuk ekstasis itu. Sholat adalah bentuk meditasi (visualisasi) tertinggi dalam Islam. Sholat adalah mi’rojnya orang mukmin, kalau Nabi Muhammad S.a.w.dengan prosesi kisah isro’ dan mi’rojnya. Dari Masjidil harom Makah ke masjidil aqsho Palestina, dan Dari masjidil aqsho langsung naik mi’roj ke langit sap 7 Shidrotul Muntaha menerima perintah Sholat 5 waktu. Dengan sholat, diri sejati /rokhani akan menampakkan diri di hadapan kita dalam bentuk gerakan-gerakan sholat. Maka, sholat sebenarnya adalah bentuk latihan fisik dengan metode “menggunakan jasad fisik yang palsu untuk melatih yang asli.”

dzikir

Penolakan para spiritualis untuk sholat, karena mereka secara epistemologis salah anggapan. Mereka beranggapan bahwa dunia ini sesungguhnya sesuatu yang riil dan terlepas dari pengamatan kita (realisme mutlak). Padahal dunia adalah berasal dari pikiran (idealisme) sehingga secara filsafati, tidak akan muncul kontroversi apabila kita melakukan syariat dengan benar.

Ya, syariat dengan tetek bengek ritualnya adalah sesuatu yang semu. Begitu juga dengan KEBENARAN sebenarnya adalah sesuatu yang semu. Namun dengan membayangkan bahwa hal tersebut tidak semu, maka benar-benar terjadi bahwa hal tersebut tidak semu. Supaya hal itu menjadi efektif, maka kita harus memiliki KEYAKINAN bahwa sholat, zakat, puasa, pergi haji dan syariat Islam lainnya adalah suatu hal yang bernilai dan nyata. Perlu diketahui bahwa Tuhan sebagai subyek persembahan kita sebenarnya memang menginginkan agar kita menyadari obyektivitas diri kita. Bahwa kita adalah obyek-Nya, merasa “diamati” oleh Sang Maha Subyek, sehingga secara etis dan filosofis adalah sebuah tindakan yang benar bilakita melaksanakan syariat untuk menyampaikan rasa hormat dan ikhlas kita kepada Tuhan.

Maka, dalam konteks itu akan terpetakan dua hal: OBYEK (hamba/kawulo) dan SUBYEK (Tuhan/Gusti./Ingsun). Keduanya memiliki tujuan dan kehendak yang berbeda. Sehingga untuk mencapai MANUNGGALING KAWULO GUSTI, tidak ada cara lain selain harus ada KESEPAKATAN antara subyek dan obyek. Kesepakatan itu bisa terjadi saat sang obyek harus manembah/sujud kepada subyek karena hanya subyeklah semua ini KUN atau terjadi. Obyek ada karena diadakan oleh Subyek. Subyek satu-satunya dasar kenyataan sehingga ketika kita (Obyek) melakukan dan menjalankan syariat, yang terjadi sesungguhnya yang terjadi adalah kita meluluhkan obyektivitas kita untuk bermanunggal menjadi subyek sejati.

kumpulan-doa-islam-pilihan

Menundukkan kepala, menempelkan wajah di sajadah, menyebut nama Allah dan membayangkan bertemu serta berkomunikasi dengan Allah, semuanya itu agar mempunyai tujuan yang sama yaitu melatih kekuatan kemauan dan pikiran kita.  Bersujud saat sholat dengan menggunakan kekuatan pikiran secara hakiki adalah sebuah kunci pembuka hijab mata bathin kita agar terbuka akan Kehadiran-Nya yang Maha Dekat di dalam ruang gaib yang tersuci di lapisan Cahaya Maha Cahaya.

Sedangkan Dimensi ghaibnya alam Jin, Syaithon, makhluk ghaib lain, arwah orang biasa, Khodam, Malaikat, Ruh para Kyai, Para Auliya’, Para Nabi, Para Dewa tidak sama memilki ruang / alam langit sendiri2.

Setelah sholat disunahkan dzikir untuk upaya memperbaiki saat komunikasi kita yang lalai, alpa konsentrasi mata bathin kita, pikiran kita berkelana….mungkin disinilah kita bisa bersua kembali dengan Sang pemilik Cahaya Maha Cahaya….terbuka tabir ghaibNYa dengan niat konsentrasi memusatkan pikiran atau disebut eleng, dilanjutkan dengan penyadaran atau Sadar visualisasi bathin yang fokus tertuju pada Dzat  Ilahi Nurun alan Nurin / Cahaya Diatas Cahaya dan perasaan juga harus di fokuskan dalam bentuk rasa atau Roso, mulai dari mungkin merinding, hawa sejuk atau getaran2 lainnya mengikuti disitulah yang kita baru tahu terbuka nampak sinar atau cahaya meski beberapa saat ….bisa juga naiknya ruh kita diperlihatkan alam2 langit, arwah, surga, neraka, para malaikat. Saat meditasi dzikir kadang seperti sekejap tertidur sesaat dan kita masuk ditunjukan sinar atau hal2 seperti diatas. Karena tidak setiap saat kita meraih seperti itu, kebersihan, kejernihan, ihlas, semeleh manunggaling kawula gusti faktor menentukan saat kita Sowan Ke Ilahi Robbi Cahaya Maha Cahaya. Subhanalloooh dan mungkin sulit untuk diceritakan, untuk merangkum kata2 dan pengalaman seperti itu sebagai meditasi dzikir olah rokhani …… perwujudan sholat kita. Astagfirulloohal adhim….karena kita baru sedikit sekali dianugerahi diperlihatkan Rahasia NurNya…..

Sumber bacaan : Kitab Minhajul Abidin, Ihya’ulumidin, Kitab2 lainnya, Widyaesmara, Wongalus / KWA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s